BeritaTrend.id | – JAKARTA – Optimalisasi pesawat angkut strategis Airbus A400M milik TNI Angkatan Udara tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi dan kemampuan terbang.
Ketersediaan suku cadang, kesiapan personel, serta sistem pemeliharaan menjadi faktor penting untuk memastikan pesawat tersebut selalu siap menjalankan misi.
Persoalan itu menjadi perhatian Kantor Staf Presiden (KSP) saat meninjau kesiapan operasional pesawat A400M di Skadron Udara 31, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa, 3 November.
Pelaksana Tugas Deputi I KSP Heru Kreshna Reza mengatakan pemerintah perlu memastikan ketersediaan komponen pesawat, terutama suku cadang yang memiliki tingkat penggunaan tinggi atau fast-moving parts.
Menurut dia, pengadaan komponen tersebut harus direncanakan secara matang untuk mengantisipasi keterlambatan pasokan.
“Kami perlu memastikan ketersediaan suku cadang yang memiliki tingkat penggunaan tinggi. Pengadaannya harus direncanakan dengan baik, termasuk mengantisipasi risiko keterlambatan pasokan, agar tidak mengganggu kesiapan operasional pesawat A400M,” ujar Heru dalam keterangan resmi KSP, Rabu.
Dua Pesawat A400M Perkuat Kemampuan Angkut TNI AU
Dalam kunjungan tersebut, jajaran TNI AU memaparkan perkembangan pengoperasian dua unit Airbus A400M yang memiliki kapasitas angkut hingga 37 ton.
Kehadiran pesawat ini memperkuat kemampuan Indonesia dalam menjalankan berbagai kebutuhan transportasi udara strategis.
A400M dapat dimanfaatkan untuk mengangkut personel, mendistribusikan logistik, mendukung operasi pertahanan, hingga menjalankan misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Kemampuan tersebut dinilai penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan terdiri atas ribuan pulau.
Dalam situasi darurat, pesawat angkut berat dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat mobilisasi personel maupun pengiriman bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat dan laut.
Heru menegaskan, modernisasi pertahanan tidak cukup hanya dengan mendatangkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berteknologi tinggi.
Investasi tersebut harus dibarengi kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, logistik, dan sistem pemeliharaan yang terintegrasi.
Tanpa dukungan tersebut, kemampuan alutsista berisiko tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
KSP Dorong Peta Jalan Pengembangan Angkutan Udara Lima Tahun
Selain menyoroti kebutuhan suku cadang, KSP mendorong TNI AU menyusun rencana strategis pengembangan kemampuan angkutan udara untuk lima tahun mendatang.
Dokumen tersebut nantinya menjadi bahan koordinasi dengan Kementerian Pertahanan.
Rencana pengembangan itu diharapkan tidak hanya berfokus pada penambahan armada, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi personel, pembangunan fasilitas pendukung, serta penguatan sistem logistik dan pemeliharaan pesawat secara berkelanjutan.
Langkah tersebut diperlukan agar pengoperasian A400M tidak berhenti pada tahap pengadaan, melainkan berkembang menjadi kemampuan angkutan udara strategis yang dapat diandalkan dalam jangka panjang.
Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI I Gusti Putu Setia Darma mengatakan keberadaan A400M memberikan tambahan kemampuan bagi TNI AU dalam mendukung berbagai kebutuhan operasi.
Menurut dia, karakteristik pesawat yang dapat menjalankan beragam misi membuat A400M memiliki peran penting, baik dalam kepentingan pertahanan maupun kegiatan kemanusiaan.
“A400M memiliki kemampuan multi-misi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung tugas pertahanan, mobilitas personel dan logistik, hingga operasi kemanusiaan. Kami terus mengembangkan kemampuan personel dan dukungan operasional agar pemanfaatan pesawat ini semakin optimal,” ujarnya.
Penguatan A400M Masuk Agenda Modernisasi Pertahanan Nasional
Penguatan kemampuan angkutan udara strategis tersebut sejalan dengan Asta Cita Kedua Presiden Prabowo Subianto serta arah pembangunan pertahanan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Sebagai tindak lanjut kunjungan, KSP akan menyusun memo kebijakan yang memuat kebutuhan prioritas untuk meningkatkan kesiapan operasional A400M.
Fokusnya mencakup dukungan kebijakan dan penguatan koordinasi dengan Kementerian Pertahanan serta kementerian dan lembaga terkait.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjamin keberlanjutan operasional pesawat, terutama melalui kepastian pasokan suku cadang, sistem pemeliharaan, dan dukungan logistik.
Dalam kunjungan kerja itu, Heru didampingi Kepala Sekretariat KSP Achmad Tjachja Nugraha dan sejumlah tenaga ahli KSP.
Rombongan diterima jajaran TNI AU, di antaranya Kepala Staf Komando Operasi Udara (KasKoopsau) Marsma TNI Destianto Nugroho Utomo dan Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI I Gusti Putu Setia Darma.
Penguatan operasional A400M menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian kemampuan pertahanan udara Indonesia.
Tantangannya kini bukan semata memiliki pesawat angkut strategis berkapasitas besar, melainkan memastikan seluruh sistem pendukungnya mampu menjaga kesiapan pesawat dalam menghadapi berbagai kebutuhan operasi nasional.



