BeritaTrend.id | – GROBOGAN – Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menggenjot produksi kedelai nasional dengan memasang target produktivitas hingga 3 ton per hektare.
Melalui program bantuan benih pemerintah yang menyasar 50.000 hektare lahan, pemerintah berharap produksi kedelai dalam negeri meningkat dan ketergantungan terhadap impor perlahan berkurang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus memenuhi kebutuhan protein masyarakat yang selama ini banyak bergantung pada kedelai impor.
Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet mengatakan, produktivitas kedelai nasional saat ini masih berada di kisaran 1,6–1,8 ton per hektare.
Pemerintah ingin meningkatkan angka tersebut menjadi 3 ton per hektare melalui penggunaan benih berkualitas dan pengelolaan budidaya yang lebih optimal.
“Jika lahan seluas 50.000 hektare dapat mencapai produktivitas 3 ton per hektare, potensi produksi yang dihasilkan bisa mencapai 150.000 ton kedelai,” kata Alim saat menghadiri gerakan tanam kedelai di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa.
Target tersebut bukan tanpa alasan. Kedelai merupakan komoditas strategis yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Selain menjadi bahan baku utama tempe dan tahu, komoditas ini juga menjadi salah satu sumber protein yang relatif terjangkau.
Namun, besarnya konsumsi belum diimbangi kemampuan produksi dalam negeri.
Akibatnya, Indonesia masih harus mendatangkan kedelai dari pasar internasional dalam jumlah besar.
Impor Kedelai Masih Capai 2,6 Juta Ton
Kementerian Pertanian memperkirakan impor kedelai Indonesia sepanjang tahun ini mencapai 2,5 juta hingga 2,6 juta ton.
Hingga November, realisasi impor disebut telah menyentuh sekitar 1,9 juta ton.
Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya pekerjaan rumah pemerintah dalam membangun kemandirian produksi kedelai.
Peningkatan hasil panen di tingkat petani dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan kebutuhan pasokan dari luar negeri.
Alim mengatakan, pemerintah berupaya menjalankan arahan Presiden dan Menteri Pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor melalui peningkatan produksi domestik.
Menurut dia, penguatan produksi tidak cukup hanya dengan memperluas lahan tanam.
Produktivitas setiap hektare juga harus ditingkatkan agar lahan yang tersedia mampu menghasilkan panen secara maksimal.
Grobogan Dipilih sebagai Lokasi Pengembangan Kedelai
Kabupaten Grobogan menjadi salah satu daerah yang diprioritaskan dalam gerakan peningkatan produksi kedelai.
Wilayah ini memiliki rekam jejak panjang sebagai sentra kedelai di Jawa Tengah dengan produktivitas yang dinilai lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Secara khusus, Kementan menargetkan pengembangan kedelai di Grobogan pada lahan seluas 5.025 hektare.
Dengan asumsi hasil panen mencapai 3 ton per hektare, produksi yang diharapkan dapat menembus sekitar 15.075 ton.
Pemilihan Grobogan juga menjadi upaya memanfaatkan potensi daerah yang telah memiliki pengalaman dalam budidaya kedelai.
Dengan dukungan teknologi, benih unggul, dan pendampingan petani, wilayah ini diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan kedelai bagi daerah lain.
Program tersebut melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, hingga perusahaan pupuk.
Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat seluruh tahapan produksi, mulai dari persiapan lahan hingga pemasaran hasil panen.
UGM Terapkan Smart Agriculture Enterprise
Salah satu dukungan penting dalam program ini datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Perguruan tinggi tersebut turut memperkenalkan pendekatan Smart Agriculture Enterprise (SAIE), yakni model pengelolaan pertanian yang mengintegrasikan berbagai proses dari hulu hingga hilir.
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Mirwan Ushada, mengatakan pendekatan tersebut merupakan teknologi tepat guna yang dikembangkan berdasarkan penelitian para peneliti UGM.
Melalui pendekatan ini, pengembangan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen.
Pengelolaan produksi juga diarahkan agar lebih terintegrasi dengan kebutuhan petani, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan rantai usaha pertanian.
Mirwan menilai, upaya mewujudkan swasembada pangan membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
UGM juga berkomitmen mengawal penerapan teknologi tersebut sekaligus membuka ruang bagi pemanfaatan kearifan lokal yang berpotensi menjadi keunggulan daerah.
Tantangan Menuju Kemandirian Kedelai
Target produktivitas 3 ton per hektare menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pengembangan kedelai nasional.
Bantuan benih pemerintah, penerapan teknologi pertanian, dan kolaborasi lintas lembaga diharapkan mampu mendorong peningkatan hasil panen secara berkelanjutan.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya target produksi.
Keberlanjutan budidaya, ketersediaan sarana produksi, pendampingan petani, kepastian harga, serta penyerapan hasil panen juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Jika seluruh tahapan tersebut dapat berjalan selaras, Grobogan berpeluang menjadi salah satu model pengembangan kedelai nasional.
Pemerintah kini menghadapi pekerjaan besar: mengubah potensi lahan dan pengalaman petani menjadi kekuatan produksi yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Sebab, mengurangi impor kedelai bukan sekadar mengejar angka produksi, melainkan membangun sistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.



