Skandal WA Kepsek Letris 2 Terbongkar

BeritaTrend.id|TANGERANG SELATAN — Kasus dugaan child grooming yang menyeret mantan Kepala SMK Letris 2 Pamulang berinisial AMA  bermula dari ruang digital yang awalnya hanya diketahui segelintir siswa.

Sebuah saluran WhatsApp tertutup menjadi titik awal terbongkarnya dugaan relasi tak wajar antara pejabat sekolah dan siswi.

Konten berupa tangkapan layar percakapan, foto, hingga video kedekatan pribadi perlahan menyebar dari saluran internal bernama “Em Anu” ke kanal terbuka bertajuk “spill”.

Dalam hitungan jam, materi itu menjalar ke TikTok, Instagram, Threads, dan X, memantik gelombang reaksi publik sekaligus membuka ruang keberanian bagi siswa lain untuk bicara.

Pihak sekolah mengaku awalnya tidak mengetahui intensitas hubungan antara AMA dan siswi berinisial S.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Firdaus Shaugie, menyebut komunikasi bermula ketika orang tua siswi meminta sekolah memberi perhatian khusus kepada anaknya yang tinggal di kos.

Namun hubungan itu disebut berkembang melampaui batas profesional.

Sekolah mengklaim telah mengingatkan agar interaksi tetap dijaga sesuai etika pendidikan.

Peringatan itu rupanya tidak menghentikan polemik yang kemudian meledak di media sosial.

Di tengah tekanan publik, turun melakukan penyelidikan melalui patroli siber.

Polisi menelusuri unggahan yang mengarah pada dugaan child grooming dan komunikasi tidak pantas terhadap siswi.

AMA sempat mendatangi kantor polisi dan membantah seluruh tuduhan.

Dalam video yang beredar, ia menyebut kasus tersebut sebagai hoaks dan mengklaim tengah menjalani proses mediasi.

Pernyataan itu dibantah polisi. Penyidik menegaskan tidak ada mediasi yang difasilitasi ataupun dikawal aparat.

Kasus yang viral justru memicu efek domino di lingkungan sekolah.

Sejumlah siswa dan alumni mulai menyampaikan pengalaman mereka terkait dugaan perilaku tidak pantas yang selama ini disebut hanya menjadi bisik-bisik internal.

Dalam forum bersama guru, beberapa siswi mengaku mengalami tindakan yang membuat mereka merasa tidak nyaman, mulai dari sentuhan fisik hingga komunikasi personal yang dinilai melampaui batas relasi guru dan murid.

Sekolah juga mengungkap adanya laporan dugaan pesan langsung dari AMA kepada siswi lain sejak 2024.

Isi pesan disebut menawarkan ruang curhat pribadi di ruangan kepala sekolah maupun di rumah pribadi.

Fenomena ini memperlihatkan pola yang kerap muncul dalam kasus grooming: pendekatan emosional yang dibungkus perhatian, akses personal yang dibangun perlahan, lalu relasi kuasa yang membuat korban sulit menolak atau melapor.

Di bawah sorotan publik, yayasan sekolah akhirnya menonaktifkan AMA sebelum menerima surat pengunduran dirinya.

Yayasan kemudian memastikan AMA tidak lagi memiliki afiliasi dengan sekolah secara permanen.

Meski status hukum kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, tekanan moral terhadap institusi pendidikan sudah terlanjur membesar.

Bagi banyak siswa, perkara ini bukan lagi sekadar isu viral, melainkan momentum untuk membongkar budaya diam yang selama ini dianggap normal di lingkungan sekolah.