banner 728x90

TNI Tegaskan Aceh Kondusif, Nas: Aceh adalah Indonesia

BeritaTrend.id|- JAKARTA — Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Muhammad Nas memastikan situasi keamanan di Banda Aceh telah kembali kondusif setelah kericuhan yang terjadi dalam rangkaian Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus 2026.

Nas mengatakan koordinasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah telah dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang muncul di lapangan.

Menurut dia, kondisi terkini di Banda Aceh aman dan masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa.

“Hasil koordinasi antara seluruh pihak terkait, baik dari TNI, Polri, termasuk pemerintah daerah sudah bisa dikoordinasikan, diclearan, intinya kondisi saat ini kondusif, tidak ada masalah,” kata Nas kepada wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis, 20 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah suasana sempat memanas dalam kegiatan peringatan Hari Damai Aceh yang berlangsung di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

TNI Minta Masyarakat Tak Sebarkan Kabar Simpang Siur

Nas juga mengimbau masyarakat agar tidak ikut menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi mengenai kondisi keamanan di Aceh.

Ia meminta masyarakat tidak membangun persepsi seolah-olah situasi di Aceh berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

TNI, kata dia, bersama aparat keamanan dan pemerintah daerah terus melakukan koordinasi untuk menjaga stabilitas wilayah.

“Jadi saya imbau tidak ada lagi yang menyebarkan berita-berita bahwa Aceh begini begitu segala macam, ataupun tidak ada kekhawatiran. Aceh adalah Indonesia,” tegas Nas.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah dan aparat keamanan menilai situasi pascakericuhan telah terkendali.

Masyarakat juga diharapkan tidak terpancing oleh informasi provokatif maupun kabar yang tidak memiliki sumber jelas.

Peringatan Hari Damai Aceh Berujung Kericuhan

Sebelumnya, peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sempat diwarnai kericuhan.

Kegiatan yang semula dirancang sebagai momentum doa dan zikir bersama justru berubah tegang akibat aksi sejumlah massa.

Dalam kejadian tersebut, sejumlah massa menurunkan secara paksa bendera Merah Putih yang terpasang di lokasi kegiatan.

Bendera tersebut kemudian diganti dengan bendera Bulan Bintang.

Situasi semakin memanas ketika terdengar seruan “merdeka” dan “Aceh Merdeka” dari sebagian massa di tengah berlangsungnya kegiatan.

Aparat keamanan yang berada di lokasi kemudian berupaya melakukan penertiban terhadap bendera yang dikibarkan massa sekaligus menjaga agar situasi tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas.

Peristiwa itu kemudian menjadi perhatian publik karena terjadi dalam momentum peringatan Hari Damai Aceh, yang secara historis memiliki makna penting bagi masyarakat Aceh.

Pemerintah Dorong Situasi Tetap Terkendali

Pernyataan Kapuspen TNI menunjukkan bahwa penanganan pascakericuhan tidak hanya dilakukan melalui pendekatan keamanan.

Koordinasi dengan pemerintah daerah juga menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi tetap stabil.

Bagi aparat, menjaga situasi tetap aman menjadi prioritas agar peristiwa yang terjadi tidak berkembang menjadi konflik baru di tengah masyarakat.

Aceh sendiri memiliki sejarah panjang konflik bersenjata yang kemudian berakhir melalui proses perdamaian.

Karena itu, setiap dinamika yang menyangkut simbol, identitas, dan seruan politik di wilayah tersebut memiliki sensitivitas tersendiri.

Dengan kondisi yang kini dinyatakan kondusif, masyarakat diharapkan dapat menjalankan aktivitas tanpa rasa khawatir.

Aparat TNI dan Polri bersama pemerintah daerah juga diharapkan terus mengedepankan komunikasi serta langkah persuasif dalam menjaga ketertiban.

Nas menegaskan kembali bahwa situasi Aceh saat ini tidak perlu dibesar-besarkan.

Ia meminta masyarakat mengedepankan ketenangan dan tidak menyebarkan informasi yang dapat memicu keresahan.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial.

Informasi mengenai situasi keamanan yang tidak jelas sumbernya berpotensi menimbulkan persepsi berbeda dari kondisi sebenarnya di lapangan.