BeritaTrend.id|- JAKARTA. Rabu, (09/09/26). — Dedi Mulyadi tengah menikmati fase penting dalam perjalanan politiknya.
Elektabilitas yang menanjak dan intensitas kemunculannya di media sosial membuat nama Gubernur Jawa Barat itu semakin sering dikaitkan dengan peta persaingan menuju Pilpres 2029.
KDM, sapaan Dedi Mulyadi, memiliki satu modal yang tidak mudah dibangun dalam waktu singkat: perhatian publik.
Melalui media sosial, ia tampil bukan hanya sebagai kepala daerah, tetapi sebagai figur yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Konten tentang persoalan warga, aktivitas pemerintahan hingga kehidupan sehari-hari membuat citranya terasa lebih personal dibandingkan komunikasi politik konvensional.
Fenomena itu memperlihatkan perubahan arena politik Indonesia.
Pertarungan popularitas kini tidak selalu dimulai dari ruang rapat partai atau deklarasi koalisi.
Ia dapat tumbuh dari layar telepon, lalu berkembang menjadi percakapan publik dalam skala nasional.
Namun, ada pertanyaan yang lebih sulit: seberapa lama momentum tersebut dapat bertahan?
Kenaikan elektabilitas yang berlangsung cepat justru membawa risiko tersendiri. Perhatian publik di ruang digital mudah berubah.
Figur yang hari ini menjadi pusat perhatian dapat dengan cepat tergeser oleh isu, tokoh, atau peristiwa baru.
Karena itu, elektabilitas Dedi Mulyadi saat ini belum bisa dianggap sebagai jaminan perolehan suara pada 2029.
Konstelasi politik masih sangat mungkin berubah.
Partai belum menentukan seluruh konfigurasi kandidat dan koalisi, sementara kondisi ekonomi serta isu nasional dalam tiga tahun mendatang juga belum dapat dipastikan.
Di titik inilah popularitas harus dibedakan dari kekuatan politik.
Popularitas membuat seseorang dikenal. Kekuatan politik membutuhkan organisasi, jaringan, dukungan partai, relawan, sumber daya, serta kemampuan menjaga loyalitas pemilih.
Jika ingin membawa popularitasnya ke tingkat nasional, Dedi menghadapi pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar mempertahankan jumlah penonton di media sosial.
Ia harus membuktikan kinerja di Jawa Barat, memperluas basis dukungan ke berbagai daerah, menjaga komunikasi politik, sekaligus membangun hubungan dengan kekuatan politik nasional.
Dengan kata lain, viralitas bisa menjadi pintu masuk, tetapi bukan tiket otomatis menuju Istana.
Dedi Mulyadi masih memiliki waktu panjang untuk membuktikan apakah popularitas digitalnya mampu berubah menjadi kekuatan elektoral yang bertahan hingga 2029.
Jika momentum tersebut konsisten, KDM berpotensi menjadi salah satu figur yang ikut menentukan arah persaingan politik nasional.
Tetapi jika popularitas tidak diikuti konsolidasi dan kinerja yang kuat, lonjakan hari ini bisa saja berhenti sebagai fenomena politik sesaat.
Pemanasan Pilpres 2029 mungkin memang telah dimulai.
Dan bagi Dedi Mulyadi, tantangan terbesarnya bukan lagi bagaimana membuat namanya naik.
Pertanyaannya justru: apakah ia mampu bertahan setelah naik terlalu cepat?



