Daerah  

Perawatan Sawit PTPN IV Kebun Rambutan Dipertanyakan

BeritaTrend.id|– SERDANG BEDAGAI — Standar perawatan tanaman kelapa sawit di Afdeling IV PTPN IV Kebun Rambutan, Regional I, Desa Pertapaan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menjadi sorotan.

Pantauan tim media di lapangan menemukan sejumlah kondisi yang dinilai tidak mencerminkan perawatan kebun secara optimal.

Di beberapa blok Afdeling IV, pelepah tunasan terlihat masih menumpuk di sekitar piringan pohon kelapa sawit.

Selain itu, brondolan hasil panen ditemukan berserakan di sekitar tanaman.

Sebagian brondolan yang dibiarkan di tanah diduga telah tumbuh menjadi kentosan—bibit kelapa sawit liar yang muncul dari buah yang tertinggal.

Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah gang tanaman. Kentosan tumbuh di antara barisan pohon sawit.

Tim juga menemukan hasil panen yang diduga belum terangkut dan berada di sekitar parit perkebunan.

Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pelaksanaan pengawasan dan pemeliharaan tanaman di afdeling tersebut.

Sebab, pekerjaan pembersihan piringan, pengutipan brondolan, pengendalian kentosan, serta pengangkutan hasil panen merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas kebun.

Brondolan Bukan Sekadar Sisa Panen

Persoalan brondolan tidak berhenti pada tampilan kebun yang kurang terawat.

Setiap buah yang tertinggal berpotensi menjadi kehilangan hasil atau losses apabila tidak segera dikutip dan dikirim bersama hasil panen.

Brondolan memiliki kandungan minyak yang signifikan.

Jika sebagian hasil panen tercecer dan tidak masuk ke rantai pengolahan, berat tandan dan brondolan yang diterima pabrik dapat berkurang.

Di sisi lain, brondolan yang terlalu lama berada di tanah juga dapat mengalami penurunan mutu.

Proses kerusakan buah dapat memicu peningkatan kadar asam lemak bebas atau ALB, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas bahan baku minyak sawit.

Dengan kata lain, persoalan yang terlihat sederhana di piringan tanaman dapat berujung pada persoalan produksi dan efisiensi apabila terjadi secara berulang dalam skala luas.

Kentosan Tumbuh, Biaya Perawatan Berpotensi Bertambah

Brondolan yang tertinggal di lapangan juga memiliki konsekuensi agronomis. Buah yang berkecambah akan menghasilkan kentosan.

Jika tidak dikendalikan, kentosan dapat tumbuh di sekitar tanaman utama dan berpotensi menjadi pesaing dalam memperoleh air, unsur hara, maupun ruang tumbuh.

Perusahaan pada akhirnya perlu mengalokasikan tenaga dan biaya tambahan untuk melakukan pengendalian, baik melalui pencabutan manual maupun metode perawatan lainnya sesuai standar kebun.

Kondisi piringan yang dipenuhi kentosan dan brondolan juga dapat menyulitkan kegiatan panen pada rotasi berikutnya.

Temuan ini menjadi semakin penting jika pekerjaan perawatan tersebut sebenarnya telah masuk dalam perencanaan dan anggaran operasional perusahaan.