BeritaTrend.id|- JAKARTA — Korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah.
Hingga Minggu, 16 Agustus 2026, tercatat 51 orang meninggal dunia dan 64 lainnya mengalami luka-luka.
Data tersebut disampaikan Satuan Tugas Hubungan Masyarakat Operasi Aman Nusa II Bencana Alam NTT.
Proses pencarian, evakuasi, serta pendataan korban masih berlangsung sehingga jumlah tersebut masih berpotensi berubah.
Kasatgas Humas Ops Aman Nusa II Bencana Alam NTT, Kombes Bayu Suseno, mengatakan korban meninggal paling banyak ditemukan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Di Kabupaten Manggarai tercatat 24 orang meninggal dunia, sedangkan di Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 20 orang.
Tim gabungan masih menyisir sejumlah lokasi yang terdampak untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal.
“Polri bersama TNI, pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh stakeholder terus memperkuat sinergi dalam penanganan bencana,” ujar Bayu dalam keterangannya, Minggu.
Menurut dia, prioritas utama pada fase awal tanggap darurat adalah menyelamatkan dan mengevakuasi korban, memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, serta menjaga agar akses komunikasi dan distribusi bantuan tetap berjalan.
Fasilitas Kesehatan Ikut Terdampak
Dampak gempa tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu pelayanan kesehatan dan infrastruktur dasar masyarakat.
Data sementara menunjukkan terdapat 21 rumah sakit yang terdampak. Dari jumlah tersebut, tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat, sedangkan enam lainnya mengalami kerusakan ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Dari 190 puskesmas yang terdampak, sebanyak 20 unit dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam operasi tanggap darurat karena fasilitas kesehatan memiliki peran penting dalam menangani korban luka sekaligus mendukung proses evakuasi medis.
Puluhan Titik Longsor Putus Akses Vital
Gempa juga memicu gangguan serius terhadap jaringan transportasi di sejumlah wilayah NTT.
Sedikitnya 33 titik longsor tercatat menghambat akses. Selain itu, terdapat empat titik patahan jalan dan empat jembatan yang mengalami kerusakan.
Sejumlah jalur utama yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat juga terdampak, termasuk ruas Ende–Bajawa dan Ende–Maumere.
Kerusakan akses jalan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena jalur darat dibutuhkan untuk mengirim bantuan, mengevakuasi korban, serta mendistribusikan kebutuhan pokok ke wilayah yang terisolasi.
Gangguan turut dilaporkan terjadi di akses Pelabuhan Lorens Say Maumere dan fasilitas SPAM Lembor Selatan.
Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Barat, sebanyak 914 bangunan tercatat mengalami kerusakan hingga Minggu dini hari.
1.875 Personel Gabungan Dikerahkan
Untuk mempercepat penanganan, Polri telah menambah kekuatan personel dalam operasi pencarian dan pertolongan.
Sekitar 1.875 personel gabungan dikerahkan, terdiri atas unsur TNI, Polri, BPBD, serta relawan.
Mereka ditempatkan untuk mendukung pencarian korban, evakuasi, pengamanan wilayah, distribusi bantuan, hingga pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Dukungan melalui jalur udara juga disiapkan.
Armada helikopter dari Bima menuju Labuan Bajo dipersiapkan untuk membantu evakuasi medis dan mengangkut bantuan ke daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Skema tersebut menjadi penting mengingat sejumlah ruas jalan dan jembatan mengalami kerusakan akibat gempa dan longsor.





