banner 728x90

NTT Tetapkan Tanggap Darurat Gempa M7,7

BeritaTrend.id|- NTT — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah memproses penetapan status tanggap darurat bencana menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Status tanggap darurat itu direncanakan berlaku selama 14 hari.

Langkah tersebut diambil pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan korban, pendataan kerusakan, distribusi bantuan, serta pemulihan akses yang terdampak gempa.

“Merespons eskalasi bencana, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses surat keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Minggu, 16 Agustus 2026.

Sejumlah Kabupaten Sudah Tetapkan Status Darurat

Penanganan bencana tidak hanya dilakukan di tingkat provinsi. Sejumlah kabupaten yang terdampak gempa juga telah menetapkan status kedaruratan masing-masing.

Kabupaten Manggarai, yang berada di sekitar pusat gempa, telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari.

Status tersebut berlaku sejak 15 Agustus hingga 13 November 2026.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Ngada menetapkan masa Tanggap Darurat Bencana sekaligus membentuk Pos Komando selama 30 hari, terhitung sejak 15 Agustus sampai 15 September 2026.

Penetapan tersebut dituangkan melalui Keputusan Bupati Nomor 441 dan Nomor 442/KEP/HK/2026.

Adapun Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.

Berton mengatakan tim gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih bergerak di sejumlah wilayah terdampak.

Petugas melakukan penyisiran sekaligus pendataan dan verifikasi terhadap dampak gempa.

Proses tersebut penting untuk memastikan jumlah korban, kerusakan bangunan, serta kebutuhan mendesak masyarakat dapat segera dipetakan.

Rumah Sakit Lapangan Beroperasi di Manggarai

Di tengah proses penanganan korban, pemerintah juga memperkuat layanan kesehatan darurat.

Sebuah rumah sakit lapangan telah didirikan dan mulai beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung pelayanan medis bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan setelah gempa.

“Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai,” kata Berton.

Selain kebutuhan medis, akses transportasi menjadi perhatian utama pemerintah.

Jalur darat Larantuka-Maumere dilaporkan telah kembali terhubung dan dapat dilalui.

Kondisi ini membuka jalur penting bagi mobilisasi logistik dan kegiatan evakuasi.

Namun, tidak seluruh akses darat telah pulih.

Jalur penghubung Ende-Nagekeo masih terputus akibat dampak gempa.

Tim penanganan bencana kini mencari jalur alternatif agar distribusi bantuan dan mobilitas masyarakat tidak sepenuhnya terhambat.

“Tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende-Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa,” ujar Berton.

47 Orang Meninggal Dunia

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026 menimbulkan dampak serius.

Berdasarkan pembaruan data BNPB pada Sabtu malam pukul 18.48 WIB, sebanyak 47 orang dilaporkan meninggal dunia.

“Berdasarkan data sementara pada Sabtu pukul 18.48 WIB, BNPB merilis total jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang,” kata Berton.

Jumlah tersebut masih merupakan data sementara.

Tim gabungan masih melakukan pencarian, pendataan, serta verifikasi di lapangan sehingga angka korban maupun kerusakan berpotensi berubah seiring proses asesmen berlangsung.

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan rumah warga.

Berdasarkan data sementara yang dikeluarkan BMKG hingga pukul 17.00 WIB, tercatat 157 rumah mengalami rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman.

Sejumlah fasilitas publik turut terdampak. Sebanyak 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, dan enam kantor dilaporkan mengalami kerusakan.

Pemerintah Fokus Buka Akses dan Salurkan Bantuan

Dengan ditetapkannya status kedaruratan di sejumlah daerah, pemerintah kini menghadapi dua pekerjaan utama: memastikan keselamatan warga dan menjaga agar bantuan dapat menjangkau wilayah terdampak.

Pembukaan akses jalan menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Jalan yang terputus dapat menghambat pengiriman makanan, kebutuhan medis, peralatan evakuasi, hingga mobilisasi petugas ke lokasi yang membutuhkan pertolongan.

Di sisi lain, pendataan kerusakan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.

Tim gabungan BPBD, pemerintah daerah, dan unsur terkait masih melakukan penyisiran di lapangan.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dan arahan petugas selama masa tanggap darurat.

Gempa dengan kekuatan M7,7 itu membuat sejumlah wilayah NTT harus bergerak cepat menghadapi dampak bencana.

Status tanggap darurat di tingkat provinsi diharapkan mempercepat koordinasi lintas lembaga, sementara penetapan status di tingkat kabupaten menjadi dasar penguatan operasi penanganan di wilayah masing-masing.

Dengan akses yang masih terputus di sejumlah titik dan proses verifikasi korban serta kerusakan yang terus berjalan, situasi di NTT masih menjadi perhatian pemerintah dan tim penanganan bencana.