BeritaTrend.id.|– Labuhanbatu Utara – Proyek revitalisasi sekolah di SMP Negeri 1 Marbau, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), menuai sorotan tajam.
Dana bantuan miliaran rupiah dari Kementerian Pendidikan yang digelontorkan untuk peningkatan sarana pendidikan justru diduga tidak sesuai bestek.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah kejanggalan, mulai dari penggunaan besi berdiameter kecil, jarak cincin terlalu renggang, hingga kualitas campuran semen dan pasir yang tidak sesuai standar.
Bahkan, para pekerja tidak dibekali alat pelindung diri (APD).
Ketua panitia proyek, H. Lomo, saat dikonfirmasi Sabtu (20/9/2025), tampak kesulitan menjawab pertanyaan awak media. “Memang itulah besinya,” ujar Lomo singkat saat ditanya terkait material bangunan toilet sekolah.
Ia bahkan sempat mengalihkan jawaban dengan menyebut kedekatannya dengan pengusaha lokal.
Sejumlah pekerja mengaku jika metode kerja yang digunakan cenderung manual dan tidak sesuai standar teknis.
Udin, salah satu tukang, menyebut pembangunan perpustakaan ukuran 8×12 meter menggunakan campuran material seadanya.
“Kalau semen satu sak, pasirnya dua angkong setengah, Pak. Anggaran perpustakaan sekitar Rp 400 jutaan,” ungkapnya.
Hal serupa juga terjadi pada proyek rehab tiga ruang kelas lama.
Pekerja bernama Ucok menjelaskan bahwa pondasi bangunan lama tetap dipertahankan.
“Hanya dipoles, pasang keramik, plafon, dan sekat pintu. Anggaran rehab sekitar Rp 668 juta,” katanya.
Sementara itu, proyek pembangunan ruang UKS berukuran 4×8 meter tercatat menelan biaya hampir Rp 195 juta.
Kepala sekolah SMPN 1 Marbau, Dewi, saat dikonfirmasi, membantah adanya masalah.
“Semua pekerjaan sesuai anggaran dan bestek. Fasilitator juga sudah tahu,” ujar Dewi melalui sambungan telepon.
Namun, ketika media mencoba meminta fasilitator meninjau langsung ke lokasi, pihak sekolah tidak memberikan respon.
Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya indikasi praktik KKN berjamaah dalam pengelolaan dana revitalisasi sekolah.
Publik berharap pihak berwenang segera turun tangan agar kualitas bangunan benar-benar bermanfaat untuk dunia pendidikan di Labura.


