Perempuan Tani Blitar Bangkit, Reforma Agraria Ubah Konflik Jadi Peluang

BeritaTrend.id|Blitar – Kepemilikan tanah tak lagi sekadar soal legalitas, tetapi menjadi titik balik kehidupan bagi para perempuan tani di Desa Soso, Kabupaten Blitar.

Setelah bertahun-tahun dilanda konflik agraria, kini mereka mulai merasakan dampak nyata dari program reforma agraria yang menghadirkan kepastian hukum sekaligus harapan baru.

Patma (55), salah satu petani, mengenang masa sulit saat lahan yang digarapnya kerap memicu ketegangan dengan pihak perusahaan sejak 2012.

Rasa takut bahkan sempat mengiringi setiap langkahnya ke kebun. Namun, kebutuhan hidup memaksanya tetap bertahan.

“Dulu nanam itu was-was. Tapi kalau tidak nanam, mau makan apa,” ujar Patma.

Perubahan besar datang pada 2022, ketika program reforma agraria dari Kementerian ATR/BPN memberikan kepastian hak atas tanah.

Sertipikat Hak Milik diterbitkan untuk ratusan warga, termasuk Patma, yang kini bisa mengelola lahannya tanpa rasa khawatir.

“Sekarang jauh lebih tenang. Sudah jelas milik sendiri,” katanya.

Hal serupa dirasakan Indra (32). Dengan sertipikat atas nama pribadi, ia mengaku lebih percaya diri dalam mengembangkan usaha tani dan merencanakan masa depan keluarga.

Tak hanya rasa aman, dampak ekonomi pun mulai terasa.

Warga memaksimalkan lahan dengan menanam jagung, didukung kerja sama dengan perusahaan agribisnis yang menyediakan bibit unggul, pendampingan, hingga akses pasar.

Harga jual jagung pun meningkat, mencapai Rp8.500–Rp9.000 per kilogram.

Dari lahan sekitar 1.500 meter persegi, petani kini mampu menghasilkan hingga 1 ton jagung dengan nilai sekitar Rp9 juta—melonjak signifikan dibanding sebelumnya yang hanya berkisar Rp4–Rp5 juta.

“Kalau hasil naik, pasti senang,” tutur Indra.

Di balik peningkatan ekonomi, perempuan tetap menjalankan peran ganda.

Setelah dari kebun, mereka kembali mengurus rumah tangga. Meski beban bertambah, semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama.

Kini, perempuan di Desa Soso tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan desa.

Reforma agraria pun terbukti bukan sekadar pembagian lahan, melainkan pintu menuju pemberdayaan dan masa depan yang lebih pasti.

Exit mobile version