BeritaTrend.id|- KAIMANA, 10 Oktober 2026 — Kemarau panjang mulai mengancam ketersediaan air bersih bagi warga di Kabupaten Kaimana, Papua Barat.
Sejumlah sumber air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat di wilayah Mangera, Kufuryai, hingga Werafuta dilaporkan mengering.
Kondisi tersebut memaksa warga mencari air ke lokasi yang lebih jauh demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Krisis air ini dirasakan warga di wilayah Airguni, Distrik Tanusan, Kabupaten Kaimana.
Menurunnya curah hujan selama beberapa bulan terakhir membuat debit air sumur dan mata air di sekitar permukiman terus menyusut.
Sejumlah sumber air bahkan tidak lagi dapat digunakan.
Bagi masyarakat setempat, air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan juga penunjang kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Ketika sumber air mengering, aktivitas sederhana seperti memasak, minum, mencuci, hingga menjaga sanitasi rumah tangga menjadi semakin sulit dilakukan.
Sumber Air Mengering, Warga Harus Menempuh Perjalanan Jauh
Berdasarkan keterangan warga, cuaca panas yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir membuat persediaan air semakin terbatas.
Pada awalnya, debit air sumur dan mata air hanya mengalami penurunan.
Namun, seiring berlanjutnya musim kemarau, sejumlah sumber air mulai kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Memasuki Oktober 2026, beberapa titik sumber air di kawasan Mangera, Kufuryai, dan Werafuta disebut telah mengering.
Warga yang sebelumnya mengandalkan sumur maupun aliran air di sekitar kampung kini harus mencari alternatif lain.
Situasi tersebut menambah beban masyarakat, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki akses mudah terhadap sumber air alternatif.
Sebagian warga harus menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan mengantre hingga malam hari, hanya untuk memperoleh beberapa jeriken air bersih.
Keterbatasan air juga membuat warga harus mengatur pemakaian secara ketat.
Air yang berhasil diperoleh diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar, seperti minum dan memasak.
Warga Keluhkan Sulitnya Memenuhi Kebutuhan Air
Sem Sirini, salah seorang warga, menggambarkan kesulitan yang dihadapi masyarakat ketika sumber air di sekitar permukiman mulai mengering.
“Kami sangat kesulitan untuk kebutuhan harian. Air sumur sudah kering, sehingga kami harus mencari air ke lokasi lain yang jaraknya lumayan jauh,” ungkapnya.
Kesulitan serupa dirasakan warga yang harus tetap menjalankan aktivitas rumah tangga di tengah terbatasnya persediaan air.
Kristina, Adolina, dan Sarbelina merupakan sejumlah warga yang turut menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan air, termasuk untuk kegiatan mencuci.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kemarau tidak hanya mengurangi ketersediaan air, tetapi juga menambah waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan warga untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Jika berlangsung berkepanjangan, keterbatasan air bersih berpotensi memperburuk kondisi sanitasi lingkungan.
Karena itu, pemenuhan akses air layak menjadi kebutuhan mendesak yang perlu mendapat perhatian.
Masyarakat Berharap Pemerintah Bangun Sumur Bor
Di tengah kesulitan tersebut, masyarakat Mangera dan Kufuryai berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk membantu warga memperoleh air bersih.
Salah satu kebutuhan yang disuarakan masyarakat adalah pembangunan sumur bor di wilayah yang terdampak.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi sumber air alternatif ketika sumur warga dan mata air alami mengalami penurunan debit akibat kemarau.
Selain pembangunan sumur bor, warga juga membutuhkan penanganan darurat melalui distribusi air bersih, terutama bagi keluarga yang kesulitan menjangkau sumber air yang masih tersedia.
Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada sumber air yang lokasinya jauh dari permukiman.
Ketersediaan fasilitas air bersih yang memadai juga diharapkan dapat mengurangi beban warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Krisis yang terjadi saat ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya penyediaan infrastruktur air bersih di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.
Perencanaan jangka panjang diperlukan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Bagi warga Airguni, Distrik Tanusan, harapan mereka sederhana: tersedianya sumber air yang mudah dijangkau, aman digunakan, dan dapat diandalkan sepanjang tahun.
Di tengah kemarau yang belum mereda, pembangunan sumur bor dan dukungan distribusi air bersih menjadi harapan masyarakat agar kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.
Kini, warga menantikan langkah konkret pemerintah daerah untuk menjawab persoalan air bersih yang semakin mendesak.



