BeritaTrend.id|- TANGERANG SELATAN — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi Forum Jurnalis Tangerang Selatan (FJTS) untuk merenungkan ulang arti kemerdekaan bagi insan pers.
Bagi FJTS, merdeka tidak sekadar soal mengibarkan bendera atau lepas dari penjajahan, melainkan juga soal ruang untuk bersuara dan mengawal kepentingan publik di tengah derasnya arus informasi.
Ketua FJTS Adi Wijaya, didampingi Sekretaris FJTS Faisol, menyampaikan bahwa kebebasan berpendapat adalah bagian tak terpisahkan dari kemerdekaan, asalkan tetap dijalankan sesuai koridor hukum yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa tugas jurnalis di era digital bukan hanya soal siapa yang tercepat memberitakan suatu peristiwa, melainkan memastikan informasi yang sampai ke publik akurat, berimbang, dan bisa dipertanggungjawabkan, Minggu, 23 Agustus 2026.
Tantangan Pers di Tengah Banjir Informasi Digital
Arus media sosial membuat kabar menyebar dalam hitungan detik.
Namun kecepatan itu membawa risiko: informasi yang belum terverifikasi, hoaks, dan opini yang kerap dibungkus seolah-olah fakta.
Kondisi inilah yang membuat peran jurnalis semakin krusial. Pers yang merdeka dituntut menjalankan fungsi kontrol sosial sekaligus menjadi pilar demokrasi, dengan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik, akurasi, dan profesionalisme.
Kolaborasi dengan Pemkot hingga Aparat
FJTS juga mendorong terjalinnya komunikasi yang sehat antara jurnalis dan berbagai elemen, mulai dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan, TNI, Polri, kalangan swasta, hingga masyarakat luas.
Sinergi tersebut, menurut FJTS, tidak lantas menghilangkan sikap kritis pers, melainkan justru membangun hubungan yang transparan dan saling menghormati tugas masing-masing pihak.
Pers Tetap Harus Merdeka di Usia 81 Tahun RI
Di usia ke-81 kemerdekaan Indonesia, jurnalis diharapkan tetap punya keberanian untuk bertanya, mengkritisi kebijakan, dan mengungkap fakta demi kepentingan publik — namun dengan tanggung jawab penuh.
Bagi FJTS, kemerdekaan pers bukan berarti bebas bicara sembarangan, melainkan keberanian menyampaikan kebenaran berbasis fakta.
Jika dulu perjuangan dilakukan lewat senjata di medan perang, kini perjuangan jurnalis adalah melawan hoaks, menjaga kebenaran, dan memastikan suara masyarakat tetap terdengar.




