BeritaTrend.id|– Labuhanbatu Utara, –Jum’at, (13/02/26). — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, puluhan keluarga korban penggusuran di area eks lahan PT Smart Padang Halaban masih bertahan hidup di sebuah masjid yang tersisa di lokasi konflik.
Rumah-rumah mereka sebelumnya diratakan alat berat dalam eksekusi lahan pada akhir Januari lalu, menyisakan bangunan ibadah sebagai satu-satunya tempat berlindung.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi para pengungsi yang memprihatinkan. Masjid yang seharusnya menjadi ruang ibadah kini berubah fungsi menjadi tempat tinggal darurat.
Di teras dan sudut bangunan, keluarga korban menata barang seadanya—kasur tipis, pakaian, dan peralatan rumah tangga—sebagai bukti bahwa mereka kehilangan tempat tinggal.
Salah satu korban, Aan Sagita, petani lanjut usia, mengaku pasrah sekaligus terpukul menghadapi situasi ini.
Ia menyampaikan keluh kesahnya saat menerima kunjungan relawan di lokasi pengungsian.
“Ramadan tinggal hitungan hari, tapi kami sudah tidak punya rumah lagi. Masjid ini satu-satunya tempat kami bertahan agar keluarga tetap punya tempat berteduh,” kata Aan dengan suara bergetar.
Menurut Aan, penggusuran tersebut tidak hanya merenggut tempat tinggal, tetapi juga memukul rasa keadilan para petani yang menganggap lahan itu memiliki nilai sejarah bagi komunitas mereka.
Ia menilai pemerintah daerah belum menunjukkan langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan yang mereka alami.
“Kami hanya rakyat kecil. Rasanya seperti diabaikan. Tapi kami masih berharap pemerintah hadir melihat penderitaan kami,” ujarnya.
Para korban menegaskan bahwa sebagian lahan yang disengketakan disebut tidak lagi berada dalam hak guna usaha perusahaan.
Mereka menuntut adanya kejelasan status lahan sekaligus perlindungan terhadap warga terdampak.
Pada Kamis (12/2), aktivitas alat berat masih terlihat di sekitar lokasi.
Perusahaan disebut tetap melanjutkan perataan tanah dan pembuatan parit, sementara warga berupaya menghalangi pekerjaan tersebut sebagai bentuk perlawanan.
Situasi ini menyoroti konflik agraria yang belum menemukan titik temu—antara kepentingan korporasi, regulasi pertanahan, dan hak hidup masyarakat lokal.
Di tengah ketidakpastian, para pengungsi kini menghadapi Ramadan dengan kondisi darurat, bergantung pada solidaritas sosial sembari menunggu kehadiran negara.
(SY)*


