BeritaTrend.id.| – Boyolali – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap menggerus tradisi, Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) Boyolali berupaya menghidupkan kembali denyut seni budaya melalui pagelaran wayang kulit.
Bersama Sanggar Gondangrawe Manunggal, JAKER akan menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Kembang Dewa Retna”, Selasa, 26 Agustus 2025, pukul 20.00 WIB di Gondangrawe, Andong, Boyolali.
Pertunjukan ini menghadirkan dalang muda Ki Aryo Pranowo, yang dikenal piawai dalam mengolah lakon klasik menjadi tontonan sekaligus tuntunan.
Agenda ini juga akan didahului diskusi budaya bertema “Kembang Dewa Retna” pada Sabtu, 23 Agustus 2025 pukul 19.30 WIB, menghadirkan pembicara lintas generasi: Ki Aryo Pranowo, AJ Susmana (budayawan dan sastrawan), Ki Jumar (sesepuh sanggar Gondangrawe Manunggal), serta Muhammad Ma’ruf (Ketua JAKER Boyolali).
Wayang, Bayangan Manusia di Dunia
Wayang kulit sejak lama dipandang sebagai cermin kehidupan. Setiap lakon sarat pesan moral, spiritual, hingga falsafah Jawa tentang sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup manusia).
Bayangan tokoh wayang yang jatuh di kelir kerap dimaknai sebagai gambaran perjalanan manusia di dunia yang digerakkan oleh dalang, ibarat peran Tuhan dalam kehidupan.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, minat masyarakat terhadap wayang kulit mulai menurun.
Era digital yang serba cepat membuat kesenian tradisi ini perlahan terpinggirkan. Melalui hajatan budaya ini, JAKER berharap wayang tetap hidup, relevan, dan mampu menjadi medium refleksi bagi masyarakat modern.
Lakon Kembang Dewa Retna: Pertarungan Keadilan dan Keserakahan
Lakon “Kembang Dewa Retna” bersumber dari kisah Ramayana versi Jawa.
Cerita berpusat pada bunga pusaka bernama Kembang Dewa Retna yang menjadi rebutan karena dipercaya sebagai simbol kemenangan dalam peperangan besar Sari Kudhup Palwanggakara.
Bunga itu awalnya dijaga Batara Danapati (Kuwera), namun dicuri Rahwana demi memperluas kekuasaannya.
Batara Guru kemudian menugaskan Kapi Pramuja, seekor kera sakti jelmaan kumbang, untuk membantu Sri Rama merebut bunga tersebut.
Konflik memuncak saat Prahasta, patih Rahwana, bertempur melawan pasukan Rama hingga akhirnya tumbang oleh Anila menggunakan tugu sakti, yang sejatinya adalah wujud kutukan Dewi Indradi.
Akhirnya, Kapi Pramuja berhasil mengembalikan bunga pusaka itu kepada Sri Rama.
Pesan moralnya jelas: kekuatan sejati selalu berpihak pada kebenaran, bukan pada kerakusan dan kekuasaan.
Refleksi 80 Tahun Indonesia dan 32 Tahun JAKER
Menurut Muhammad Ma’ruf, Ketua JAKER Boyolali, pementasan ini memiliki makna ganda: selain memperingati HUT JAKER ke-32, juga sekaligus HUT Kemerdekaan RI ke-80.
“Wayang kulit tidak hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Melalui lakon Kembang Dewa Retna, kami ingin mengajak masyarakat merefleksikan perjalanan budaya, peradaban bangsa, serta capaian JAKER selama 32 tahun,” ujar Ma’ruf.
Bagi JAKER, wayang adalah medium perlawanan sekaligus pengingat bahwa budaya adalah benteng ketahanan bangsa.
Pagelaran ini diharapkan menjadi ruang dialog antara tradisi dan zaman, agar warisan leluhur tidak sekadar menjadi nostalgia, melainkan energi bagi masa depan.