Tinggalkan Jabatan Demi Sekolah Rakyat, Samuel dan Susanti Rela Mengabdi untuk Anak Negeri

BeritaTremd.id. – Jakarta – Dua sosok inspiratif, Samuel Franklin Yawan asal Papua dan Susanti dari Sulawesi Selatan, rela meninggalkan zona nyaman demi mengabdi di Sekolah Rakyat.

Mereka menjadi peserta Retreat Kepala Sekolah Rakyat tahap II yang digelar di Pusdiklatbangprof Kemensos, Jakarta Selatan, Sabtu (5/7).

Samuel, mantan Kepala SMA Negeri di Samber, Biak Numfor, memutuskan mundur dari jabatan prestisiusnya demi menjawab “doa” keluarga tak mampu di kampungnya.

“Saya tinggalkan jabatan kepala sekolah karena saya punya hati. Ini jawaban doa keluarga miskin. Tuhan pakai Presiden untuk jawab doa itu,” ucap Samuel haru di depan Mensos Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.

Keputusannya bukan tanpa risiko. Samuel mengakui meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang lebih besar.

“Kalau saya mau enak, ngapain ke Sekolah Rakyat? Tapi saya mau jadi saluran berkat untuk keluarga tak mampu,” tegasnya.

Senada, Susanti—guru berpindah tugas sejak 2009—menyatakan keterharuannya saat terlibat dalam program ini.

Selama ini, ia menyaksikan langsung bagaimana kesenjangan pendidikan memperpanjang rantai kemiskinan.

“Saya menangis waktu dengar pidato Gus Ipul. Ini mimpi yang akhirnya jadi nyata,” ujar Susanti, yang kini bertugas di daerah terpencil di Morowali Utara.

Ia pernah mengajar di program Keaksaraan Fungsional bagi orang dewasa dan melihat langsung dampaknya pada masa depan anak-anak mereka.

“Kalau pendidikan berkualitas bisa sampai ke desa, saya yakin kemiskinan akan putus.”

Retreat ini diikuti oleh 47 kepala sekolah dari seluruh Indonesia yang siap memimpin 100 titik Sekolah Rakyat tahap pertama.

Program ini akan mulai berjalan pada 14 Juli 2025 dan menargetkan 10.000 siswa dari keluarga prasejahtera.

Susanti optimistis Sekolah Rakyat akan sukses karena melibatkan banyak kementerian dan elemen masyarakat.

“Kali ini benar-benar kolaboratif. Ini pasti akan berjaya,” tutupnya.