๐ฝ๐๐ง๐๐ฉ๐๐๐ง๐๐ฃ๐.๐๐. – Palembang – Sungai-sungai yang dulunya menjadi nadi kehidupan Kota Palembang kini berada di ambang krisis.
Dalam diskusi bertajuk “Sungai: Jejak Sejarah, Realita Hari Ini, dan Masa Depan Kota Palembang” yang digelar Senin (14/7/2025) di Utopia Palembang, sejumlah akademisi dan pegiat budaya mengkritisi hilangnya fungsi ekologis dan historis sungai-sungai di kota ini.
Sejarawan Universitas Sriwijaya, Dr. Dedi Irwanto, menilai bahwa Palembang mengalami kehilangan identitas karena pengabaian terhadap ratusan anak sungai yang dulunya menjadi urat nadi peradaban.
โPalembang bukan hanya dilintasi Sungai Musi. Dulu, ratusan anak sungainya jadi jalur utama perdagangan, pemerintahan, dan kehidupan. Tapi sekarang, banyak yang ditimbun, dialihkan, bahkan berubah jadi got tertutup,โ ujar Dedi.
Ia menyoroti bahwa sejak masa kolonial, paradigma pengelolaan sungai mulai bergeser.
Kolonialisme memandang sungai sebagai masalah sanitasi yang harus ditaklukkan. Beberapa aliran air bahkan ditutup demi proyek infrastruktur.
โSungai Tengkuruk contohnya. Dahulu jalur diplomatik menuju Kraton Cinde Belang, kini tinggal aspal dan kemacetan,โ katanya menyesalkan.
Dedi menyebut revitalisasi seperti proyek Sekanak Lambidaro perlu lebih dari sekadar pembangunan fisik.
Harus ada kesadaran sejarah dan budaya yang menyertainya agar kota tidak sekadar mempercantik lanskap, tetapi juga memulihkan jati diri.
โPalembang harus berdamai dengan sejarahnya. Kota yang tumbuh dari sungai, tak bisa terus memunggungi air,โ tegasnya.
Sungai Bukan Nostalgia, Tapi Masa Depan
Senada dengan Dedi, sejarawan UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, menyebut Palembang sebagai “peradaban air”.
Berdasarkan catatan sejarah, lebih dari 700 sungai pernah mengaliri kota ini. Namun, kini hanya tersisa 114 sungai aktif menurut data Koalisi Kawali 2025.
โSungai Musi memang masih mengalir, tapi kilauannya bukan lagi kejernihan. Banyak anak sungainya berubah jadi kanal mati,โ ungkap Kemas.
Ia mendorong pendekatan komprehensif, termasuk pelestarian rumah-rumah tua seperti Rumah Limas dan Baba Ong Boen Tjit, serta pengembangan transportasi sungai berbasis ketek sebagai bagian dari ekonomi hijau dan wisata sejarah.
โRevitalisasi harus menyentuh warga. Tanpa partisipasi masyarakat, semua hanya proyek mercusuar,โ tambahnya.
Kemas menilai bahwa sungai tidak hanya soal lingkungan, tapi juga soal identitas, hukum, dan kebudayaan.
โHukum kita banyak, tapi tak ditegakkan. Yang kita butuhkan adalah kesadaran kolektif,โ katanya.
Desakan Bentuk Satgas Sungai dan Blokir Sertifikat Lahan Sungai
Budayawan sekaligus konten kreator Palembang, Hidayatul Fikri, menegaskan perlunya langkah konkret dalam penyelamatan sungai.
Ia mendorong pembentukan Satgas Percepatan Normalisasi Sungai dan pelibatan lintas sektor, dari tingkat kota hingga kelurahan.
โPemkot harus segera memblokir lahan-lahan sungai di BPN agar tidak disertifikasi. Ini langkah awal penting,โ katanya.
Ia juga mendorong penerbitan Perda larangan buang sampah di sungai serta pembangunan sistem transportasi sungai yang terintegrasi.
โBukan hanya master plan, tapi juga implementasi nyata. Sungai adalah urat nadi kota, jangan dibiarkan mati,โ pungkasnya.
Diskusi ini menyuarakan satu pesan penting: jika Palembang tak segera menyelamatkan sungai-sungainya, maka yang hilang bukan hanya ekosistem air, tetapi juga akar sejarah dan masa depannya.