Stok Beras Melimpah, Harga Tak Kunjung Turun: Terkuak Dugaan Permainan Harga dan Mutu

BeritaTrend.id. – Jakarta Selasa,01/07/25. – Ironis. Saat stok beras nasional menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, harga di lapangan justru masih melejit.

Para ibu rumah tangga mengeluh, pedagang kecil mengernyit, sementara konsumen bertanya-tanya: siapa yang bermain di balik harga beras yang tak kunjung turun?

Hasil investigasi gabungan antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Satgas Pangan menemukan dugaan kuat adanya praktik curang dalam rantai distribusi beras.

Dugaan itu bukan sekadar asumsi. Dari pengujian yang dilakukan terhadap beras-beras yang beredar di pasaran, ditemukan temuan mengejutkan.

Sebanyak 85 persen sampel beras tidak sesuai standar mutu, 59 persen dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, dan 21 persen tidak sesuai berat kemasan. Uji laboratorium dilakukan di 13 laboratorium di 10 provinsi, mencakup berbagai wilayah sentra konsumsi dan distribusi.

“Ini bukan sekadar pelanggaran teknis, tapi bentuk pengkhianatan terhadap konsumen,” ujar seorang pejabat Kementan yang terlibat langsung dalam investigasi, saat diwawancarai Trend.

Lebih jauh, tim investigasi menemukan pola berulang dari praktik tersebut: pengemasan ulang beras kualitas rendah dalam kemasan premium, manipulasi berat berskala besar, hingga dugaan markup harga oleh oknum distributor dan produsen.

Langkah Tegas Pemerintah:

Tak tinggal diam, pemerintah memberikan ultimatum dua minggu kepada seluruh pelaku usaha yang terlibat untuk melakukan perbaikan.

Jika tidak, sanksi administratif hingga pidana siap dijatuhkan. Pemerintah menegaskan bahwa keadilan bagi konsumen dan keterjangkauan pangan adalah prioritas.

“Jangan ada yang bermain-main dengan urusan perut rakyat,” tegas Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan dalam konferensi pers akhir pekan lalu.

Kondisi Lapangan Berbanding Terbalik dengan Data

Menurut data Badan Pangan Nasional, stok beras nasional saat ini mencukupi hingga awal 2026.

Bahkan, sebagian besar gudang Bulog dilaporkan dalam kondisi overstock. Namun, hal ini tidak tercermin dalam harga eceran.

Di sejumlah pasar tradisional Jakarta, harga beras medium masih bertahan di angka Rp13.000–14.500 per kilogram, jauh di atas HET yang ditetapkan Rp10.900.

Akar Masalah: Kartel, Distribusi, atau Lemahnya Pengawasan?

Beberapa analis pangan menilai, ketimpangan antara stok dan harga menandakan adanya distorsi serius dalam rantai pasok.

Apakah ini kerja kartel? Atau lemahnya pengawasan dan regulasi di tingkat daerah?

“Tanpa transparansi distribusi dan sanksi tegas, permainan seperti ini akan terus berulang,” kata analis pertanian dari INDEF.

Kisruh harga beras ini menjadi tamparan keras bagi sistem pangan nasional. Kelebihan stok seharusnya jadi kabar baik, bukan ilusi yang menyembunyikan permainan di belakang layar.

Di tengah inflasi dan daya beli yang melemah, masyarakat butuh jaminan bahwa bahan pokok tersedia dan terjangkau.