Spiritia Rayakan 30 Tahun dengan Lagu “Rengkuh Hati”

Tiga Dekade Menyala untuk Kemanusiaan

Didirikan pada November 1995, Yayasan Spiritia telah menjadi salah satu pilar penting dalam perjuangan melawan HIV/AIDS di Indonesia.

Selama tiga dekade, lembaga ini menyediakan informasi, advokasi, dan dukungan psikososial bagi komunitas ODHA.

Hingga 2025, Spiritia telah mendampingi lebih dari 220 ribu orang dengan HIV/AIDS, di mana hampir 200 ribu di antaranya kini menjalani terapi ARV.

Baca Juga ini  DPD RI–PWI Kolaborasi Gaungkan Green Democracy

Melalui program edukasi yang masif, lebih dari 800 ribu masyarakat berisiko telah mendapatkan penyuluhan, dan 70% di antaranya akhirnya bersedia melakukan tes HIV.

Bagi Daniel, angka itu bukan sekadar statistik. “Di balik setiap data, ada wajah, ada cerita, ada perjuangan. Kami ingin semua orang tahu bahwa HIV bukan akhir dari segalanya,” katanya penuh haru.

Baca Juga ini  Andreas Hugo: Kepala PCO Baru Harus Punya Kepekaan HAM dan Strategi Komunikasi yang Elegan

Musik yang Merangkul

Melalui “Rengkuh Hati”, Spiritia tak hanya ingin merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga mengingatkan publik bahwa perjuangan melawan HIV/AIDS tidak bisa hanya mengandalkan obat dan layanan medis.

Dibutuhkan empati, dukungan, dan kemanusiaan.

Kami ingin setiap orang yang mendengarkan lagu ini merasa dipeluk. Bahwa tidak ada yang sendirian dalam hidup ini,” tutup Daniel.

Baca Juga ini  Ketua PWI Pusat Akhmad Munir Dipeusijuk di Aceh

Lagu “Rengkuh Hati” kini bisa didengarkan di berbagai platform digital.

Lebih dari sekadar karya musik, lagu ini adalah seruan lembut untuk merengkuh sesama — karena dalam setiap hati yang terluka, selalu ada ruang untuk harapan.