Satu Langkah PalmCo, Dua Solusi: Sawit & Pangan

Untuk komoditas padi gogo, PalmCo mencatat luasan pilot project mencapai 51 hektare.

Salah satu kisah sukses datang dari lahan PSR milik KUD Dwi Jaya, Muaro Jambi, yang mampu memanen lebih dari 10 ton dari 5 hektare, setara 2,1 ton/ha.

“Ini menjadi sinyal positif bahwa pola tumpang sari bisa menjadi alternatif kuat dalam menyokong ketersediaan pangan nasional,” tambah Jatmiko.

Program TAMPAN dan Capaian Produktivitas Sawit di Atas Rata-Rata

PalmCo juga tetap konsisten menjalankan PSR dan terus mendorong peningkatan produktivitas petani plasma melalui pola kemitraan berbasis single management.

Dalam tiga tahun terakhir, dana BPDPKS telah berhasil disalurkan untuk 15.321 hektare dari target 22.569 hektare.

Rata-rata produktivitas sawit tahun pertama petani mitra PalmCo mencapai 12,57 ton TBS per hektare per tahun, melampaui standar nasional sebesar 12 ton.

Bahkan, beberapa KUD mencatatkan hasil luar biasa. KUD Makarti Jaya di Riau mampu mencapai 18 ton/ha di tahun pertama.

Di tahun kedua, separuh mitra mencetak di atas 15 ton, bahkan tertinggi hingga 21 ton/ha.

“Kami juga memastikan keberlanjutan melalui empat program utama, mulai dari pendampingan, distribusi bibit unggul, jaminan offtaker hasil panen, hingga penguatan kelembagaan KUD,” terang Jatmiko.

Heru Tri Widarto, yang menyebut sinergi kuat antara petani, perusahaan, dan pemerintah sebagai kunci pencapaian tersebut.

“Budidaya padi gogo di lahan kering seperti area PSR adalah langkah strategis dalam mencapai swasembada pangan nasional,” kata Heru.

Ke depan, PalmCo berkomitmen untuk terus mengintegrasikan PSR dengan penguatan sektor pangan sebagai bagian dari strategi besar menuju Indonesia yang berdaulat pangan.