BeritaTrend.id.|– Labuhanbatu Selatan – Kasus dugaan penganiayaan santri kembali mencuat. Seorang santri bernama Rezi, warga Dusun Sabungan Sentosa, Sungai Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), dikabarkan mengalami tindak kekerasan hingga terbaring lemah.
Ironisnya, dugaan penganiayaan tersebut dilakukan oleh gurunya sendiri, seorang ustaz berinisial AM (Ahmad Mubarak), di Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfiz Darul Falah, Kelurahan Langga Payung, Kecamatan Sungai Kanan.
Insiden yang mengejutkan ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh ibu korban, Rohana Arbah Siregar, dengan nomor laporan polisi LP/B/184/IX/2025/SPKT/POLRES LABUHAN BATU SELATAN, tertanggal 12 September 2025.
Keluarga korban berharap agar pelaku segera ditangkap dan diproses hukum.
Kronologi Dugaan Penganiayaan
Sehari sebelum kejadian, Rezi mewakili sekolahnya dalam ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten Labusel.
Sepulang dari lomba, ia merasa kelelahan hingga mengalami demam.
Pada jam belajar keesokan harinya, Rezi tertidur di kelas akibat kondisi tubuh yang semakin drop.
Saat itulah sang guru berinisial AM membangunkannya dengan keras menggunakan kopiah. Kaget dengan perlakuan tersebut, Rezi tersentak.
Diduga menganggap respon santri itu sebagai bentuk perlawanan, AM lalu menendang wajah Rezi hingga terpental dan terbentur dinding serta kursi.
Akibat insiden itu, Rezi mengalami cedera pada mata, memar di wajah, bibir pecah, dan sakit kepala berdenyut.
Tak berhenti di situ, Rezi juga disebutkan diseret dan ditendang berulang kali.
Kondisi Semakin Memburuk
Beberapa jam setelah kejadian, pihak ponpes membawa Rezi ke klinik terdekat.
Anehnya, mereka tidak memberi tahu orang tua korban. Dokter di klinik sempat menyarankan observasi, namun Rezi justru dibawa kembali ke ponpes tanpa perawatan.
Ketika kondisi semakin parah, Rezi akhirnya dilarikan lagi ke klinik.
Barulah pada saat itu pihak sekolah menghubungi orang tuanya. Hasil CT scan menunjukkan adanya pendarahan di kepala Rezi.
Hingga kini, pihak keluarga menilai Ponpes Tahfiz Darul Falah tidak menunjukkan bentuk tanggung jawab.
Biaya pengobatan sepenuhnya masih ditanggung oleh orang tua korban.
Bahkan, keluarga menyebut ada sejumlah orang yang diutus ponpes untuk mengajak damai, seolah peristiwa ini dianggap hal biasa.
Keluarga korban menegaskan mereka ingin kasus ini diproses secara hukum.
“Kami berharap pelaku segera ditangkap, karena apa yang terjadi pada anak kami bukan kejadian ringan,” ujar pihak keluarga.
Kasus ini pun kini menjadi sorotan publik, terutama karena korban dikenal sebagai hafiz 30 juz sekaligus siswa berprestasi di bidang fisika.


