BeritaTrend.id.| – Yogyakarta – Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo menyoroti sejumlah persoalan krusial yang tengah menghambat laju industri kelapa sawit nasional.
Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Santosa, dalam forum industri yang digelar di Yogyakarta bulan lalu menguraikan tantangan-tantangan yang mengintai serta langkah-langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan sektor sawit Indonesia.
Menurut Jatmiko, meski minyak sawit mentah (CPO) masih mendominasi pasar minyak nabati dunia, produktivitas nasional stagnan.
“Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan tahunan (CAGR) produksi sawit kita hanya sekitar 1 persen. Bandingkan dengan soybean dan rapeseed yang tumbuh 3 hingga 6 persen per tahun,” ujarnya.
Tak hanya soal volume, harga CPO yang dulu kompetitif kini melampaui harga rapeseed, mengubah peta daya saing global.
“Kalau kita masih merasa CPO adalah yang paling efisien dan murah, itu sudah tidak relevan. Jika kita tidak berbenah, akan tertinggal,” tegasnya.
Langkah Strategis: Bibit Unggul hingga Percepatan PSR
Dalam upaya menjaga keberlanjutan, Jatmiko menekankan pentingnya ketersediaan bibit sawit unggul, terutama bagi petani rakyat yang menguasai sebagian besar lahan sawit Indonesia.
“Dari total 4,1 juta stut bibit sawit bersertifikat, sekitar 77 persen atau 3,2 juta dihasilkan oleh PPKS—unit usaha kami di bawah PT RPN. Ini menunjukkan komitmen kami dalam menyediakan bibit produktif,” kata Jatmiko.
Tak kalah penting, percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai krusial untuk mendongkrak produktivitas.
Saat ini, produktivitas kebun rakyat masih rendah, hanya 2-3 ton CPO per hektare per tahun.
Meski program PSR sudah diluncurkan sejak 2017, realisasinya belum memuaskan.
“Target 180 ribu hektare per tahun, tapi realisasi tertinggi hanya 51 persen. Tahun ini malah target turun jadi 120 ribu hektare, dan realisasinya baru 18 ribu,” ungkapnya.
Jatmiko menyebut tiga faktor utama penghambat: syarat PSR yang ketat, konflik lahan dalam kawasan, serta distribusi bibit unggul yang belum optimal.
Di PalmCo sendiri, hingga pertengahan 2025, telah berhasil membantu penerbitan rekomendasi teknis untuk PSR seluas 11 ribu hektare.
“Target kami akhir tahun ini bisa tembus 22 ribu hektare dan 86 ribu hektare hingga 2029,” imbuhnya.
Dorongan dari Mandatori Biodiesel dan ESG
Peningkatan produksi CPO juga dinilai vital menyambut kebijakan mandatori B35 hingga B50 pada 2027.
“Untuk B35 dibutuhkan 13,41 juta kiloliter biodiesel. B50 bisa sampai 20,11 juta kiloliter, setara 7,2 juta ton CPO tambahan. Ini harus dijawab dengan peningkatan produksi, agar tidak mengganggu kebutuhan pangan,” ujar Jatmiko.
Terakhir, Jatmiko menegaskan bahwa komitmen terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) adalah kunci menjaga eksistensi industri sawit nasional dalam tekanan isu keberlanjutan global.
“Kami yakin, dengan luasan areal 618 ribu hektare, PalmCo memiliki posisi strategis membangun masa depan sawit Indonesia. Tapi kami tidak bisa sendiri. Perlu kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan petani. Inovasi dan digitalisasi harus diutamakan,” tandas Jatmiko.