Indonesia dan Harta Nuklir yang Diperebutkan Dunia
BeritaTrend.id.| – Jakarta, 26/08/25. – Indonesia tengah duduk di atas kekayaan strategis yang jarang disadari publik.
R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menyebut ada lebih dari 24 ribu ton uranium di Melawi, Kalimantan Barat, serta 130 ribu ton thorium di Bangka Belitung.
Menurutnya, cadangan ini bukan sekadar data geologi, melainkan modal geopolitik yang bisa menentukan posisi Indonesia di kancah global.
“Uranium dan thorium kita bukan hanya soal energi murah, tapi soal kedaulatan bangsa. Kalau dikelola benar, Indonesia bisa menjadi kekuatan besar di masa depan,” ujar Haidar Alwi.
Potensi Energi Setara Jutaan Ton Batubara
Satu kilogram uranium-235 mampu menghasilkan energi setara 2,7 juta kilogram batubara.
Thorium yang diolah menjadi uranium-233 memiliki daya setara. Ironisnya, di pasar internasional, harga uranium hanya sekitar Rp2–2,6 juta per kilogram.
Namun jika dikonversi ke energi, nilainya melampaui komoditas lain.
“Murah harga tapi mahal energi. Kalau dikelola mandiri, cadangan ini bisa membebaskan bangsa dari ketergantungan impor energi,” ucap Haidar.
Sejarah Jejak Asing
Keterlibatan asing bukan hal baru. Pada 1970-an, Prancis melalui lembaga CEA bekerja sama dengan BATAN mengeksplorasi uranium di Kalimantan.
Amerika Serikat pun sempat melirik. Fakta-fakta ini, kata Haidar, menunjukkan bahwa pihak luar selalu punya akses lebih dulu dibanding rakyat.
Karena itu, revisi UU No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran yang masuk Prolegnas 2025 menjadi penentu arah.
Apakah undang-undang baru akan berpihak pada rakyat atau justru membuka pintu lebih lebar bagi investor asing?
Prabowo, Putin, dan Tarik-Menarik Blok Global
Momentum geopolitik juga sedang terbuka. Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membawa peluang kerja sama energi nuklir lewat Rosatom, pemain besar PLTN dunia.
Namun, langkah ini pasti memicu perhatian Amerika Serikat dan Prancis yang juga punya kepentingan.
“Diplomasi energi jangan sampai menjadikan Indonesia pion dalam perebutan pengaruh global. Prabowo harus teguh berdiri di atas prinsip Pasal 33 UUD 1945,” tegas Haidar.
Risiko dan Jalan Kedaulatan
Haidar menyebut ada tiga risiko besar yang harus diwaspadai:
- Cadangan strategis jatuh ke tangan asing.
- Oligarki energi jika hanya dikuasai segelintir elite.
- Tarikan geopolitik yang menjadikan Indonesia pion.
Sebagai solusi, ia mendorong kemandirian nuklir nasional lewat riset, SDM, dan infrastruktur.
Ia juga mengusulkan pembentukan Badan Kedaulatan Nuklir Rakyat serta koperasi energi rakyat agar manfaat langsung dirasakan masyarakat.
“Uranium dan thorium adalah amanah sejarah. Energi nuklir harus untuk rakyat, bukan untuk elit, bukan untuk asing,” tutup Haidar Alwi.