BeritaTrend.id.| – Jakarta – Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, menegaskan peran vital Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai garda depan ekonomi Indonesia.
Menurutnya, sejak dipimpin Djaka Budhi Utama, Bea Cukai mulai menunjukkan arah baru lewat berbagai operasi besar yang berdampak langsung pada penerimaan negara dan pengamanan kedaulatan ekonomi.
“Bea Cukai adalah pintu gerbang ekonomi negara. Jika pintu ini dijaga dengan baik, penerimaan negara terjamin dan ruang gerak mafia perdagangan bisa dipersempit,” kata Haidar Alwi dalam keterangan tertulisnya.
Penerimaan Negara dan Peran Strategis
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, penerimaan Bea Cukai pada 2024 tembus Rp300 triliun, atau sekitar 20% dari total penerimaan negara.
Angka tersebut menjadikan lembaga ini salah satu pilar utama fiskal, apalagi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang memberi mandat ganda: mengamankan penerimaan dan menutup celah penyelundupan.
Gebrakan Awal Djaka Budhi Utama
Sejak awal kepemimpinan Djaka, sederet operasi digelar. Satgas Nasional Rokok Ilegal berhasil menindak 182 juta batang rokok ilegal melalui Operasi Gurita.
Sinergi Bea Cukai dan TNI AL juga membongkar penyelundupan 51,2 juta batang rokok ilegal di Perairan Riau.
Tak berhenti di situ, Operasi Laut Terpadu 2025 menggagalkan penyelundupan 714 ton beras, 19,8 ton gula, hingga 49,9 ton pasir timah ke Malaysia.
Bahkan, pada Juli 2025, Bea Cukai bersama BNN dan TNI AL mencetak sejarah dengan pengungkapan 2 ton sabu dari MV Sea Dragon Tarawa—kasus narkotika terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
“Deretan capaian itu harus dipandang sebagai bukti Bea Cukai menegaskan diri sebagai benteng kedaulatan ekonomi,” ujar Haidar.
Apresiasi dan Kritik
Meski capaian positif tercatat, Bea Cukai tetap disorot. Penempatan sejumlah pejabat berlatar TNI menuai pro-kontra, sementara isu dugaan pungutan dana operasional sempat mencuat meski dibantah.
Haidar menilai kritik harus dijawab dengan transparansi dan kerja nyata.
“Reformasi tidak pernah mulus. Tetapi keberanian menjawab kritik dengan data dan fakta akan membuat publik percaya,” tegasnya.
Harapan ke Depan
Haidar menyebut ada tiga langkah utama yang perlu diperkuat Bea Cukai: transparansi hasil penindakan, keterbukaan laporan kinerja, serta peningkatan integritas pegawai.
Ia menekankan reformasi tidak cukup dengan penindakan keras, melainkan juga edukasi publik, seperti kampanye bahaya rokok ilegal dan penyelundupan sumber daya alam.
“Apresiasi kinerja Bea Cukai harus jadi motivasi memperkuat benteng ekonomi bangsa. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya penerimaan negara, tapi juga martabat Indonesia,” pungkas Haidar.