BeritaTrenr.id|– Labura, Sumatera Utara — Dari Aek Kanopan, sebuah ibu kota kabupaten yang kerap dianggap berada di pinggir peta kekuasaan nasional, kegelisahan tentang arah ekonomi dan masa depan negara justru menggema lantang.
Negeri yang dikenal dengan semboyan Basimpul Kuat Babontuk Elok, kini menjadi ruang lahirnya kritik tajam terhadap pusaran ekonomi-politik nasional.
Kegelisahan itu datang dari Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara (LPPN).
Ketua LPPN, Bangkit Hasibuan, sosok yang dikenal santai namun tegas, menyampaikan keresahan usai berdiskusi dengan pengamat pasar dan bursa Jakarta, Bambang P., S.Pd.
Diskusi tersebut mengerucut pada satu kesimpulan: ekonomi nasional sedang berada dalam fase rawan.
Bangkit, yang bermukim di kawasan bantaran Sungai Kualuh—wilayah bersejarah bekas pusat Kesultanan Kualuh di Desa Tanjung Pasir, Kualuh Selatan—menyebut kondisi yang dihadapi Presiden Prabowo Subianto sebagai situasi paradoks.
“Bukan sedang di tengah badai, tapi Prabowo berada di tengah gurun salju,” ujar Bangkit.
Guncangan Bursa dan Uang Panas Triliunan
Menurut Bangkit, gejolak di pasar modal belakangan ini tak bisa dibaca sebagai peristiwa biasa.
Ia menyinggung angka fantastis Rp2.700 triliun yang disebut sebagai “uang panas” hasil dari aktivitas ekonomi ilegal dan spekulatif yang berpotensi mengguncang stabilitas negara.
Data yang disuarakan PPATK, kata dia, menunjukkan perputaran dana tambang ilegal mencapai sekitar Rp1.000 triliun, sementara kejahatan di sektor kehutanan menyumbang sekitar Rp1.700 triliun.
Totalnya, Rp2.700 triliun, uang yang bergerak di bawah radar negara dan berpotensi menjadi alat tekanan terhadap kebijakan pemerintah.
“Ini bukan cerita fiktif atau uang palsu. Ini nyata dan mulai menguap,” katanya.
Politik, Narasi, dan Peta Kawan-Lawan
Bangkit menilai, guncangan bursa adalah bagian dari pola besar.
Ketika kepentingan terusik, stabilitas ekonomi bisa dijadikan alat perlawanan.
Di saat yang sama, panggung politik dipenuhi drama: ada yang sibuk mencari sorotan, ada pula yang mulai memasang badan.
Narasi yang dilempar ke ruang publik, termasuk oleh sejumlah aktor politik, dinilainya sebagai upaya membaca peta: siapa yang akan berdiri sebagai kawan, dan siapa yang akan menjadi lawan dalam agenda pembersihan besar-besaran.
Efek dominonya, kata Bangkit, tak terhindarkan. Jika satu simpul terbuka, maka jaringan yang melibatkan oknum aparat hingga pengusaha hitam berpotensi ikut terseret.
Ujian Nyali Kekuasaan
Pertanyaan besarnya, menurut Bangkit, hanya satu: seberapa berani Presiden Prabowo?
“Dia bukan kucing anggora. Harapannya, dia benar-benar macan Asia,” ucapnya.
Namun ia mengingatkan, upaya membersihkan kebocoran triliunan rupiah bukan pekerjaan ringan.
Itu berarti berhadapan langsung dengan tembok kekuasaan yang dibangun dari uang haram dan oligarki yang sudah terlalu lama nyaman.
Jika Prabowo konsisten, Bangkit memprediksi akan ada “gempa” di level elite.
Sebaliknya, jika hanya berhenti sebagai gimik politik, maka triliunan rupiah itu akan tetap menjadi milik “hantu pasar malam” yang menggerogoti sumber daya alam negeri.
“Rakyat menonton, alam menangis, dan mafia sedang berkeringat dingin,” tutupnya.
Ia pun mengingatkan sejarah: ketika rezim Soeharto diguncang, tak sampai setahun kekuasaan runtuh.
Apakah Prabowo mampu bertahan hingga kalender berikutnya dengan kendali penuh di tangan? Waktu dan langkah catur berikutnya yang akan menjawab.
(SY).*


