Daerah  

Gulma Mengganas di Kebun PTPN IV Sei Dadap, Pekerja Minim APD

BeritaTrend.id|Asahan – Kondisi areal perkebunan milik BUMN, Regional I Kebun Sei Dadap, Kabupaten Asahan, menjadi sorotan.

Sejumlah titik di afdeling III dilaporkan dipenuhi gulma yang dinilai mengganggu produktivitas tanaman karet.

Pantauan di lapangan pada Kamis (19/2/2026), beberapa pekerja wanita terlihat melakukan penyemprotan gulma (chemical spraying) di areal tanaman karet produktif.

Namun, mereka disebut tidak mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, khususnya masker pelindung dari paparan uap bahan kimia.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terkait keselamatan dan kesehatan kerja.

Paparan bahan kimia tanpa perlindungan memadai berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terlebih para pekerja berstatus tenaga harian lepas.

Seorang mandor harian bernama Santi mengaku APD sebenarnya tersedia, namun tidak digunakan karena kondisi basah akibat hujan sehari sebelumnya.

“Besok pasti kami pakai APD semua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tim kerja berjumlah empat orang dengan sistem upah harian.

Setiap pekerja memperoleh dua hari kerja (HK) dengan total upah sekitar Rp50 ribu per orang.

Para pekerja disebut masih berstatus tenaga harian dan belum diangkat menjadi karyawan tetap.

Sementara itu, Asisten Afdeling III, Rusdi Muliadi, yang bertanggung jawab atas teknis lapangan, perawatan areal, hingga administrasi, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Hal serupa juga terjadi pada pihak manajemen terkait lainnya.

Selain persoalan APD, kondisi tanaman karet di areal tersebut juga disorot. Sejumlah pohon terlihat tidak lagi dalam volume standar, bahkan ditemukan tanaman mati atau rusak.

Situasi ini diduga berkaitan dengan kurang optimalnya perawatan serta tata kelola masa tanam ulang sebelumnya.

Sebagai perusahaan milik negara, penerapan standar keselamatan kerja dan pengelolaan kebun dinilai harus menjadi perhatian serius manajemen.

Evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan teknis dan perlindungan pekerja menjadi krusial demi menjaga produktivitas sekaligus keselamatan tenaga kerja.

(SY)*