BeritaTrend.id – Jakarta Kamis, 1 Mei 2025 – Ketua Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), Andi Jamro Dulung, membuat pernyataan mengejutkan dalam acara Tasyakuran Hari Lahir PMII Ke-65 dan Halal Bihalal yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta Selatan.
Dalam sambutannya, Andi menyatakan bahwa tidak ada satu pun elite di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berasal dari PMII.
Pernyataan ini mengundang perhatian banyak pihak, mengingat PMII dan NU selama ini dikenal memiliki hubungan yang sangat erat.
Andi menyoroti fakta bahwa dalam penandatanganan dokumen resmi NU yang melibatkan empat posisi penting, yakni Rois Aam, Katib Aam, Ketua Umum, dan Sekjen, tidak ada satupun yang berasal dari PMII.
“Empat penandatanganan dokumen resmi NU: rois aam, katib aam, ketua umum, sekjen, zero PMII, nol PMII, Pak,” ujar Andi dengan tegas di hadapan para alumni yang hadir.
PMII dan NU: Sejarah yang Terhubung, Namun Realita Berbeda
Sebagai informasi, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat Partai NU.
Meski demikian, Andi mengungkapkan kenyataan yang cukup mencengangkan bahwa meskipun banyak alumni PMII yang telah berkiprah di berbagai posisi penting, kenyataannya posisi-posisi strategis di PBNU tidak dipegang oleh alumni PMII.
Dalam forum tersebut, Andi juga menegaskan bahwa meskipun banyak alumni PMII yang memiliki peran besar dalam berbagai forum, dokumen-dokumen resmi NU yang penting tetap ditandatangani oleh elite PBNU yang bukan berasal dari PMII.
“Hasilnya itu empat penandatangan tidak ada PMII,” tambah Andi.
Mengingatkan Tantangan di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Selain menyoroti situasi di PBNU, Andi juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
DPP PKB, yang beralamat di Jalan Raden Saleh, Jakarta, kini dipimpin oleh Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, yang diketahui juga merupakan alumni PMII.
Namun, Andi menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam hal keterlibatan alumni PMII di struktur PKB. Dari 68 anggota DPR RI yang terpilih pada Pemilu 2024, hanya 28 yang tercatat sebagai alumni PMII.
“Jadi, setelah nanti Cak Imin selesai, apakah masih PMII yang pimpin itu?” tanya Andi, menggambarkan kekhawatiran akan kurangnya peran alumni PMII di struktur PKB setelah Cak Imin tidak lagi memimpin.
Pentingnya Penguasaan Parlemen ala Gus Dur
Lebih lanjut, Andi mengingatkan para alumni PMII untuk mengikuti jejak Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang mengedepankan konsep penguasaan parlemen sebagai kunci kekuatan politik.
“Kalau konsep Gus Dur yang mau kita pakai adalah menguasai parlemen,” tegas Andi, mengingatkan pentingnya strategi politik jangka panjang.
PB IKA PMII: Perjuangan Kaderisasi untuk Mengisi Posisi Strategis
Sementara itu, Ketua Umum PB IKA PMII, Fathan Subchi, menanggapi pernyataan Andi dengan menekankan pentingnya distribusi kader dalam struktur politik Indonesia.
Menurut Fathan, posisi-posisi politik strategis harus diisi oleh kader-kader PMII yang telah dilatih dan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin.
“Kita ini kan aktivis, kita kan pergerakan, kita ini kan dididik, dikader dalam pengkaderan untuk menjadi pemimpin,” ungkap Fathan, menegaskan bahwa kaderisasi yang ada di PMII harus dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang dapat mengambil peran penting di berbagai sektor.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
Pernyataan Andi Jamro Dulung dan Fathan Subchi ini memberikan gambaran jelas tentang dinamika peran alumni PMII dalam politik Indonesia saat ini.
Meskipun PMII memiliki sejarah panjang dalam mendukung NU dan PKB, realitas politik menunjukkan adanya tantangan besar bagi alumni PMII dalam mengisi posisi-posisi strategis di kedua organisasi besar tersebut.
Namun, dengan semangat kaderisasi yang kuat, PMII diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bisa mengisi kekosongan di berbagai posisi penting dalam politik Indonesia.
Seiring dengan berjalannya waktu, pertanyaan utama yang muncul adalah bagaimana alumni PMII akan menanggapi tantangan ini dan seberapa jauh mereka akan menguasai parlemen, sebagaimana yang dicontohkan oleh Gus Dur.
Apakah PMII akan mampu mengisi ruang yang kosong dan mengukir kembali jejak historisnya dalam peta politik Indonesia? Waktu yang akan menjawab.