BeritaTrend.id|– PONDOK AREN — Ketika Wali Kota Benyamin Davnie turun langsung memimpin aksi bersih-bersih di Pondok Kacang Timur, publik melihat lebih dari sekadar simbol kepemimpinan.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan sedang mempertaruhkan kredibilitasnya dalam isu yang selama ini menjadi pekerjaan rumah perkotaan: pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kegiatan yang dilaksanakan serentak di sepuluh titik itu dikemas sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI — sebuah inisiatif yang menekankan perubahan perilaku masyarakat.
Namun di balik semangat gotong royong, muncul pertanyaan mendasar: apakah gerakan ini mampu menembus akar persoalan sistemik, atau berhenti sebagai mobilisasi seremonial?
Antara Simbol dan Sistem
Kehadiran kepala daerah di lapangan jelas memiliki efek psikologis.
Aparatur bergerak, warga ikut terlibat, dan pesan kebersihan menjadi lebih nyata.
Tetapi investigasi pada praktik pengelolaan sampah perkotaan menunjukkan bahwa aksi sesaat sering kali tidak cukup tanpa dukungan sistem yang konsisten.
Beberapa titik pengumpulan sampah di Tangsel masih menghadapi persoalan klasik — keterbatasan pemilahan, pengangkutan yang belum optimal, hingga kebiasaan warga yang sulit berubah.
Artinya, aksi bersih-bersih hanya menjadi lapisan permukaan jika tidak diikuti pembenahan rantai pengelolaan dari hulu ke hilir.
Benyamin sendiri menekankan bahwa program ini diarahkan untuk membangun budaya, bukan sekadar kegiatan rutin.
Pernyataan itu penting — sebab perubahan budaya membutuhkan waktu, regulasi pendukung, dan mekanisme pengawasan yang jelas.


