BeritaTrend.id|– TangSel, Rabu (11/02/26). – Kematian ikan di Kali Jaletreng hingga Sungai Cisadane setelah kebakaran gudang pestisida di kawasan Taman Tekno, Tangerang Selatan, bukan sekadar insiden lingkungan biasa.
Peristiwa ini memperlihatkan rantai pengawasan industri bahan kimia yang diduga rapuh—dan dampaknya langsung dirasakan publik.
Dalam beberapa hari pascakebakaran, warga melaporkan perubahan warna air dan bau menyengat di aliran sungai.
Tak lama, ikan-ikan mati mengambang. Pemerintah kota merespons dengan larangan konsumsi ikan dan siaga layanan kesehatan.

Namun langkah itu lebih menyerupai penanganan dampak, bukan jawaban atas akar persoalan: bagaimana zat berbahaya bisa lolos ke badan air publik?
Gudang penyimpanan pestisida semestinya memiliki standar pengamanan ketat untuk mencegah limpasan bahan kimia saat terjadi kebakaran.
Kematian biota sungai mengindikasikan kemungkinan kegagalan sistem pengendalian darurat—baik dalam desain fasilitas, prosedur penanganan, maupun pengawasan rutin.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengakui perlunya pemeriksaan Sertifikat Laik Fungsi dan evaluasi dokumen analisis dampak lingkungan di kawasan industri tersebut.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa kepatuhan industri terhadap regulasi keselamatan belum sepenuhnya terjamin.
Sejumlah sumber di lingkungan pemerintahan menyebut pemeriksaan kawasan industri kerap menghadapi hambatan administratif dan akses.
Jika benar, kondisi itu menempatkan aparat pengawas dalam posisi reaktif—baru bergerak setelah terjadi insiden. Pola ini memperbesar risiko kecelakaan serupa di masa depan.
Dari sisi kesehatan publik, pemerintah menyiagakan fasilitas medis untuk warga yang mungkin terpapar.
Namun hingga kini belum ada paparan terbuka mengenai tingkat kontaminasi air maupun risiko jangka panjang.
Ketiadaan transparansi data lingkungan berpotensi memperlebar jarak antara kebijakan dan kepercayaan publik.
Kasus Cisadane menunjukkan bagaimana kecelakaan industri dapat menjalar cepat dari area tertutup ke ruang hidup masyarakat.
Sungai menjadi jalur distribusi kontaminasi yang sulit dikendalikan setelah kejadian.
Insiden ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum: apakah evaluasi industri akan berhenti pada pemeriksaan administratif, atau berlanjut pada audit menyeluruh dan penegakan aturan yang tegas.
Tanpa perbaikan sistemik, larangan konsumsi ikan hanya menjadi pengingat bahwa risiko lingkungan sering kali baru disadari setelah dampaknya muncul di permukaan.
(FAISOL.S.Ag)*


