BeritaTrend.id|– Palu — Kebun anggur di Desa Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, menjadi etalase hidup keberhasilan Reforma Agraria.
Kawasan yang porak-poranda akibat bencana 2018 itu kini menjelma sentra pertanian produktif sekaligus destinasi agrowisata yang ramai dikunjungi warga kota.
Transformasi ini digerakkan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kota Palu sejak 2021.
Melalui penataan lahan dan pembukaan akses usaha, warga—terutama penyintas bencana—didorong mengelola pertanian bernilai ekonomi tinggi.
Anggur dipilih sebagai komoditas unggulan, memadukan teknologi budidaya modern dengan potensi wisata lokal.
Anggota GTRA Kota Palu dari Dinas Pertanian, Sutikno Teguh Asparianto, menilai dampaknya terasa langsung.
Pendapatan warga meningkat, dan kawasan yang semula rawan kini menjadi ruang hidup produktif.
Program ini berjalan terkoordinasi di bawah arahan pemerintah kota dengan ATR/BPN sebagai pengampu kebijakan pertanahan.
Manfaatnya meluas hingga warga di luar kelompok tani inti. Ibrahim, warga Duyu, mengaku budidaya anggur menjadi sumber penghasilan tambahan keluarganya.
Dari puluhan pohon, panen dapat berlangsung beberapa kali setahun—cukup untuk menopang ekonomi rumah tangga sekaligus mengangkat nama kampungnya.
Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menegaskan bahwa Reforma Agraria bukan sekadar pembagian lahan, melainkan strategi pemulihan dan pemberdayaan.
Di Palu, kebijakan itu bekerja: mengubah trauma bencana menjadi peluang ekonomi berbasis komunitas.


