BeritaTrend.id|– Jakarta — Penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada pekan ketiga Januari 2026 tidak datang dengan sendirinya.
Setelah sempat masuk jajaran wilayah dengan inflasi tertinggi pada Desember 2025, stabilisasi harga di daerah terdampak bencana dicapai melalui langkah darurat yang tidak lazim: distribusi pangan lewat udara.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengakui, lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh kerusakan serius pada infrastruktur logistik.
Jalan nasional terputus, jembatan runtuh, dan pasar rusak membuat pasokan pangan tersendat selama berminggu-minggu.
Dalam situasi itu, mekanisme distribusi normal tak lagi memadai.
Pemerintah pusat kemudian mengambil alih kendali pasokan. Bulog dan Badan Pangan Nasional mengirim beras dan minyak goreng menggunakan helikopter dan pesawat Hercules ke wilayah-wilayah yang terisolasi, termasuk pedalaman Aceh dan Kepulauan Nias.
Langkah ini jarang dilakukan karena biaya tinggi, namun dinilai krusial untuk menahan laju inflasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebagian besar kabupaten dan kota di tiga provinsi tersebut kini mencatat penurunan IPH.
Meski begitu, sejumlah wilayah masih menghadapi tekanan harga, seperti Bener Meriah dan Langsa di Aceh, Nias Selatan di Sumatera Utara, serta Tanah Datar dan Pasaman di Sumatera Barat.
Pemulihan infrastruktur menjadi faktor penentu berikutnya.
Pemerintah menyebut seluruh jalan nasional telah kembali berfungsi, sementara aktivitas pasar di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah pulih sepenuhnya.
Di Aceh, sekitar sepertiga pasar masih belum beroperasi normal, menandakan pemulihan ekonomi belum merata.
Turunnya harga pangan memberi sinyal keberhasilan jangka pendek.
Namun tantangan sesungguhnya adalah memastikan distribusi kembali stabil tanpa bergantung pada operasi darurat.
Tanpa perbaikan sistem logistik dan mitigasi bencana yang lebih kuat, risiko lonjakan harga serupa tetap mengintai setiap kali bencana datang.


