BeritaTrend.id. – Banten Minggu, 4 Mei 2025 – Sebanyak 1.769 warga adat Baduy dari pedalaman Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, kembali melaksanakan ritual tahunan Seba, sebuah tradisi adat turun-temurun yang menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat adat dan pemerintah.
Dalam ritual Seba 2025 yang berlangsung pada Sabtu (3/5), perwakilan masyarakat adat, Jaro Oom, menyampaikan sejumlah aspirasi penting kepada Gubernur Banten yang dalam adat disebut Abah Gede.
Seba dibuka dengan pembacaan doa dan pesan adat dalam bahasa Sunda khas Baduy, yang sarat makna dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Lindungi Alam, Dari Gunung Karang hingga Ujung Kulon
Salah satu permintaan utama warga Baduy adalah perlindungan terhadap alam, khususnya wilayah adat yang mereka huni.
Mereka meminta agar Pemprov Banten menjaga kelestarian lingkungan dari Gunung Karang hingga Ujung Kulon, termasuk wilayah sakral Kanekes.
“Khususna katitipan kolot menta perlindungan pamaréntah Banten,” ujar Jaro Oom, yang berarti ‘titipan dari para leluhur, kami minta perlindungan dari pemerintah Banten’.
Butuh Anti Bisa Ular di Puskesmas
Selain itu, persoalan kesehatan juga menjadi sorotan. Warga Baduy, yang sebagian besar beraktivitas di hutan dan ladang, rentan terkena gigitan ular berbisa.
Mereka berharap pemerintah dapat menyediakan obat anti bisa ular di fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit terdekat.
“Kami bertani di leuweung, kami hoyong dikhususkeun anti bisa,” tambahnya, menekankan pentingnya penanganan cepat atas insiden tersebut.
Dorong Penguatan Perda Desa Adat
Jaro Oom juga menyinggung pentingnya penguatan regulasi hukum yang mengakui keberadaan dan kearifan lokal masyarakat adat.
Ia berharap tidak hanya ada Peraturan Daerah (Perda) tentang Desa Adat, tetapi juga aturan hukum di tingkat provinsi dan nasional.
“Kami hoyong dilindungi, dikhususkeun RUU Perda Desa Adat, tingkat Lebak, pusat, dikhususkeun Perdana,” ujarnya dalam bahasa Sunda Baduy.
Tradisi Seba, Simbol Ketaatan dan Kearifan Lokal
Tradisi Seba merupakan bentuk ketaatan warga Baduy terhadap negara dan simbol persatuan antara pemerintah dan masyarakat adat.
Ribuan warga berjalan kaki dari pedalaman Baduy menuju pusat pemerintahan sebagai bentuk penghormatan dan penyampaian amanat para tetua.
Pemerintah Provinsi Banten pun menyambut baik kedatangan rombongan Seba, dengan harapan permintaan warga Baduy dapat diakomodasi dalam kebijakan pembangunan yang berkelanjutan dan ramah adat.
Tradisi Seba bukan hanya warisan budaya, tetapi juga momentum penting untuk mendengarkan suara masyarakat adat.
Pemprov Banten diharapkan merespons aspirasi warga Baduy dengan kebijakan nyata dalam bidang lingkungan, kesehatan, dan perlindungan hukum adat.